Dalam ibadah haji, jutaan orang dari berbagai negara datang dengan tujuan yang sama. Namun ada satu hal yang paling menonjol dan penuh makna, yaitu pakaian ihram. Dua kain putih sederhana yang digunakan oleh semua jamaah bukan hanya bagian dari tata cara ibadah, tetapi juga pengingat bahwa manusia pada dasarnya sama. Di tengah kehidupan yang sering dipenuhi perbedaan status dan penampilan, pesan ini terasa sangat penting untuk direnungkan.

Jasa Penerbitan Buku dan ISBN

Pakaian ihram mengajarkan manusia untuk hidup sederhana. Selain kesederhanaan, ihram juga mengajarkan pengendalian diri dan disiplin spiritual, karena jamaah harus menahan diri dari larangan-larangan tertentu selama ibadah. Tanpa pakaian mewah, tanpa perhiasan, tanpa sesuatu yang membuat satu orang terlihat lebih tinggi dari yang lain. Pesan ini bisa terlihat jelas jika dibandingkan dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Misalnya, ada mahasiswa yang memaksakan diri memakai pakaian bermerek hanya supaya terlihat keren di depan teman- temannya. Ada juga yang membeli barang mahal padahal keuangannya terbatas, hanya karena takut dianggap kurang “gaul” atau kurang “modern”. Padahal, semua itu sering kali hanya membuat seseorang hidup penuh tekanan dan tidak menikmati hari-harinya. Kesederhanaan yang diajarkan ihram justru mengingatkan bahwa seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk dianggap baik oleh orang lain.

Menurut ulama yang menafsirkan riwayat Ibnu Abbas tentang ihram, penggunaan kain putih yang tidak dijahit menggambarkan kerendahan diri dan kesamaan kedudukan jamaah di hadapan Allah. Ketika semua jamaah memakai pakaian yang sama, tidak ada lagi perbedaan antara orang kaya dan miskin, pintar atau biasa saja, terkenal atau tidak. Semua berdiri sejajar

di hadapan Tuhan. Nilai ini sangat relevan dalam kehidupan mahasiswa yang penuh keberagaman. Kadang ada yang meremehkan teman hanya karena penampilannya sederhana. Ada pula yang memilih bergaul hanya dengan kelompok tertentu karena menganggap kelompok lain “tidak selevel”. Padahal, setiap orang punya kelebihan, perjuangan, dan cerita hidup masing-masing. Jika melihat dari sudut pandang kesetaraan, hubungan antarmahasiswa bisa menjadi lebih hangat, saling menghargai, dan jauh dari rasa sombong.

Sumber: umn.ac.id

Pesan dari pakaian ihram ini mengingatkan bahwa hidup akan terasa lebih tenang ketika manusia mengurangi ego, tidak selalu ingin terlihat lebih hebat dari orang lain, dan belajar memperlakukan siapa pun dengan baik. Kesederhanaan membuat hati lebih ringan, sementara kesetaraan membuka pintu bagi hubungan yang lebih sehat dan nyaman. Dengan menerapkan nilai-nilai ini, lingkungan kampus bisa menjadi tempat yang lebih damai, tanpa tekanan sosial dan tanpa rasa ingin saling mengalahkan.

Pada akhirnya, ihram bukan hanya pakaian ibadah, tetapi juga pengingat agar manusia tetap rendah hati, tidak berlebihan, dan selalu menghargai sesama. Dari dua kain putih itu, manusia belajar bahwa hidup yang baik tidak ditentukan oleh apa yang terlihat dari luar, tetapi oleh bagaimana seseorang bersikap terhadap dirinya dan bahwa kebesaran sejati lahir dari kerendahan hati, kesucian hati serta menegaskan bahwa identitas manusia diukur dari niat dan keikhlasan, bukan status sosial. Nilai nilai sederhana inilah yang bisa membuat kehidupan sehari hari terasa lebih bermakna dan lebih manusiawi.

Referensi :

Fauzan, A. 2022. Makna Simbolik Ibadah Haji Perspektif Ali Syariati. Islamic Review: Jurnal Riset Dan Kajian Keislaman. Vol. 11(1): 35-58.

Yandra, E. D. 2022. Kajian Pakaian Ihram Laki-laki Perspektif Hadis. In Gunung Djati Conference Series. Vol. 16(1): 1-8.

Penulis: Fathulloh Azhar Purnama dan Muhammad Ardra Wibawa Mukti – Mahasiswa Universitas Sultang Ageng Tirtayasa