INDOAKTUAL – Marhaenisme merupakan ideologi yang digagas oleh Ir. Soekarno sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan kolonialisme dan kapitalisme yang mengeksploitasi rakyat kecil. Ideologi ini lahir dari pengamatan Soekarno terhadap kehidupan seorang petani kecil bernama Marhaen yang memiliki tanah, cangkul, dan alat kerja sederhana, namun tetap hidup dalam keterbatasan. Dari situlah Soekarno menyimpulkan bahwa penindasan tidak hanya dialami oleh buruh yang tidak memiliki alat produksi, melainkan juga oleh rakyat kecil yang memiliki alat produksi sederhana namun tidak mampu menguasai hasil kerjanya sendiri.

Faktor-faktor Meredupnya Ideologi

Namun, seiring berjalannya waktu, ideologi Marhaenisme semakin meredup dalam dinamika politik Indonesia. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini. Pertama, perkembangan sistem ekonomi Indonesia yang semakin terintegrasi dengan kapitalisme global. Masuknya investasi asing, industrialisasi, dan liberalisasi ekonomi pasca Orde Baru telah menggeser orientasi kebijakan negara dari kepentingan rakyat kecil menuju kepentingan pertumbuhan ekonomi semata. Nilai-nilai Marhaenisme yang menekankan pada keberpihakan terhadap kaum kecil semakin terpinggirkan oleh kepentingan ekonomi yang menuntut efisiensi, kompetisi, dan daya saing global.

Kedua, partai politik yang pernah menjadikan Marhaenisme sebagai dasar perjuangan politik, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), kini lebih menonjolkan aspek pragmatisme politik dibandingkan ideologi. PDI-P yang mewarisi garis perjuangan Soekarno sering kali dianggap hanya menggunakan Marhaenisme sebagai simbol politik tanpa implementasi nyata dalam kebijakan. Hal ini membuat Marhaenisme kehilangan kekuatan ideologisnya di kalangan generasi muda yang lebih kritis terhadap realitas sosial-politik. Mereka melihat bahwa retorika ideologi sering kali berbeda jauh dengan praktik politik sehari-hari.

Ketiga, perubahan sosial dan budaya masyarakat Indonesia juga turut memengaruhi redupnya Marhaenisme. Masyarakat kini lebih banyak terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif, individualistik, dan pragmatis yang dibawa oleh arus globalisasi. Semangat kolektivitas, gotong royong, dan keberpihakan kepada kaum kecil yang menjadi ruh Marhaenisme semakin sulit ditemukan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ideologi yang menekankan kesetaraan sosial dan perjuangan kolektif mulai kehilangan ruang di tengah gempuran nilai-nilai liberalisme dan materialisme.

Keempat, kampus dan kalangan intelektual di Indonesia kurang membahas atau mengembangkan pemikiran Marhaenisme. Penelitian tentang ideologi ini sedikit. Marhaenisme sering kali hanya dilihat sebagai pelajaran sejarah perjuangan bangsa , padahal seharusnya bisa menjadi sumber ide atau solusi alternatif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada saat ini. Gagasan tentang kemandirian ekonomi, nasionalisme, serta keberpihakan pada kaum tertindas dapat menjadi inspirasi dalam menghadapi ketidakadilan struktural di era modern.

Relevansi Marhaenisme Saat Ini

Dalam situasi ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin melebar, Marhaenisme masih relevan untuk dijadikan pijakan dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil. Marhaenisme bukan hanya bagian dari sejarah masa lalu, tetapi juga gagasan yang menawarkan nilai keadilan sosial, kemandirian, dan nasionalisme. contoh kasus nyata yang paling mencerminkan penderitaan kaum marhaen saat ini adalah konflik agraria yang terus meluap. korban konflik ini didominasi oleh petani dan masyarakat miskin kota yang digusur atau tanahnya direbut oleh proyek-proyek besar atau perusahaan. Bahkan, penderitaan kaum marhaen masih terlihat hingga kini pada generasi penerusnya, misalnya dari banyaknya kasus stunting dan putus sekolah. Semua itu menunjukkan bahwa sistem masih gagal menjamin keadilan sosial bagi rakyat kecil.

Di masa sekarang, di mana masyarakat semakin terjebak dalam arus globalisasi yang mulai memudarkan identitas bangsa, Marhaenisme bisa menjadi dasar untuk membangun kembali orientasi kebijakan yang berpihak pada rakyat. Misalnya, dalam bidang ekonomi, konsep kemandirian rakyat kecil dapat diwujudkan melalui penguatan koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta reforma agraria yang sesungguhnya. Sementara itu, dalam bidang politik, nilai keberpihakan terhadap rakyat bisa tercermin melalui regulasi yang mengutamakan keadilan sosial, bukan hanya menguntungkan kalangan elite semata.

Langkah Revitalisasi

Untuk menghidupkan kembali Marhaenisme di masa sekarang, dibutuhkan langkah-langkah nyata yang bisa dilakukan oleh berbagai masyarakat  Langkah pertama yang sangat penting adalah memperkuat pendidikan politik bagi generasi muda. Anak muda perlu dibekali pemahaman tentang nilai-nilai perjuangan rakyat agar tidak mudah terjebak dalam sikap politik yang hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok. Pendidikan ini bisa dilakukan lewat kegiatan di organisasi, komunitas masyarakat sipil, bisa juga melalui media digital yang dekat dengan kehidupan anak-anak generasi sekarang. Dengan begitu, semangat Marhaenisme bisa dikenalkan dengan cara yang lebih menarik dan relevan.

Langkah kedua adalah mendorong partai politik yang mengaku sebagai penerus ajaran Marhaenisme untuk benar-benar membuktikan komitmennya. Mereka perlu menunjukkan keberpihakan kepada rakyat kecil lewat kebijakan yang nyata, bukan hanya melalui janji-janji politik. Program-program yang berpihak pada petani, buruh, dan masyarakat miskin harus menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai Marhaenisme masih hidup dalam politik Indonesia.

Selain itu, peran akademisi juga sangat penting. Mereka perlu menghidupkan kembali kajian dan diskusi tentang relevansinya Marhaenisme dalam menghadapi tantangan zaman modern ini. Dengan penelitian dan pemikiran yang kritis, ideologi ini bisa terus dikembangkan agar tidak sekadar menjadi sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi dalam membuat kebijakan publik yang berpihak pada keadilan sosial. Langkah ini juga penting untuk memodernisasikan marhaenisme agar tetap relevan di tengah perkembangan yang cepat.

Opini

Redupnya ideologi Marhaenisme di Indonesia tidak lepas dari pengaruh kapitalisme global, pragmatisme politik, perubahan sosial, dan minimnya kajian akademik. Namun, ideologi ini masih memiliki relevansi besar dalam menjawab persoalan ketidakadilan sosial yang terus membayangi bangsa Indonesia.

Revitalisasi Marhaenisme menjadi sebuah kebutuhan mendesak agar Indonesia tidak kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai Marhaenisme, Indonesia dapat meneguhkan kembali komitmennya pada cita-cita kemerdekaan: membangun masyarakat adil dan makmur yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Pada akhirnya, redupnya Marhaenisme bukan berarti ideologi ini telah mati. Justru, di tengah tantangan globalisasi dan kapitalisme yang semakin hegemonik, Marhaenisme bisa menjadi jawaban alternatif untuk melawan dominasi sistem yang tidak berpihak pada kaum kecil Tugas generasi saat ini adalah mencari cara kreatif untuk menghidupkan kembali semangat Marhaenisme agar tidak hanya menjadi kenangan sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan bangsa. Jika upaya ini gagal, maka penderitaan kaum Marhaen yang pernah digambarkan Soekarno sejak seabad lalu akan terus terulang dalam bentuk yang lebih modern.

Penulis: Raisyadila Triana Yusup

Penulis adalah mahasiswa semester 1 mata kuliah Pengantar Ilmu Politik, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP Untirta.