INDOAKTUAL – Dalam perjalanan pemenuhan gizi ibu dan anak, hasil baru terasa setelah proses berjalan cukup lama. Karena itu, Program Makan Bergizi Gratis ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (MBG 3B) hadir tanpa janji hasil instan. 

Melalui rutinitas yang berulang, program ini merupakan investasi jangka panjang bagi generasi mendatang. Setiap hari, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyiapkan makanan, kader posyandu mencatat lalu menyalurkannya kepada para ibu penerima manfaat. 

Rutinitas ini tampak sederhana, namun di sanalah kebiasaan mulai terbentuk. “Yang kami jaga itu kesinambungannya. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tapi prosesnya harus dijaga,” Asisten Lapangan SPPG di Bogor, Rusli, Jumat (26/12). 

Ia menjelaskan, pada masa kehamilan, asupan gizi ibu menjadi fondasi awal kehidupan anak. Proses tersebut terus berlanjut pada fase menyusui hingga akhirnya membentuk kebiasaan makan saat anak memasuki usia balita. 

Menurutnya, rangkaian ini berjalan secara kontinu dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dampak MBG juga mulai dirasakan langsung oleh para ibu dalam kehidupan sehari-hari. 

Lilis, salah satu ibu balita penerima manfaat ini mengungkapkan bahwa Program MBG mendorong perubahan pola makan di rumah. “Saya jadi lebih teratur soal jam makan, bukan cuma karena programnya, tapi karena kami jadi terbiasa,” ucapnya.

Perubahan seperti ini jarang tercatat sebagai capaian. Ia tidak menghasilkan grafik yang menanjak dalam waktu singkat, namun di situlah nilai utama dari investasi gizi berproses perlahan, menyatu dengan keseharian, dan membentuk kebiasaan yang bertahan.

Kader posyandu pun melihat proses ini sebagai suatu perjalanan. Kader posyandu di Tangerang Selatan, Rini Setiani menilai dampak program ini tidak selalu langsung terlihat. “Anak-anaknya mungkin belum kelihatan bedanya sekarang. Tapi kami percaya proses ini penting,” ujar Rini.

MBG 3B tidak menjanjikan hasil instan. Program ini memilih jalur yang lebih panjang dengan membangun fondasi sejak awal kehidupan, menjaga ritme pemenuhan gizi, dan mempercayakan perubahan pada waktu.

Ketika generasi berikutnya tumbuh lebih kuat dan sehat, proses panjang yang membentuknya mungkin tak selalu diingat. Namun yang terpenting jejak investasi itu nyata, tertanam dalam kebiasaan, perhatian, dan keputusan-keputusan kecil yang pernah dijaga bersama.