Apa Itu Scrap? Pengertian dan Penjelasan Lengkap

Scrap adalah istilah yang sering muncul dalam berbagai industri, terutama di bidang manufaktur. Dalam konteks produksi, scrap merujuk pada sisa material atau produk yang tidak lagi dapat digunakan sesuai dengan tujuan awalnya. Meskipun tidak lagi berguna untuk keperluan utama, scrap tetap memiliki nilai ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Dengan memahami pengertian scrap, perusahaan dapat mengelola limbah ini secara efisien, mengurangi pemborosan, serta meningkatkan efisiensi operasional.

Scrap bisa berasal dari berbagai sumber, seperti sisa pemotongan material, produk rusak, atau barang yang tidak sesuai spesifikasi. Proses pengelolaannya melibatkan segregasi, penyimpanan, daur ulang, dan pembuangan yang sesuai regulasi lingkungan. Tidak hanya itu, scrap juga bisa menjadi sumber pendapatan tambahan jika dikelola dengan baik. Dengan demikian, pemahaman tentang scrap sangat penting bagi perusahaan untuk mencapai tujuan bisnis yang berkelanjutan.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap apa itu scrap, sumber-sumbernya, manfaatnya, cara pengelolaannya, serta dampaknya terhadap profitabilitas perusahaan. Dengan informasi yang terstruktur dan jelas, pembaca akan memperoleh wawasan mendalam tentang pentingnya scrap dalam dunia industri.

1. Pengertian Scrap Barang

Scrap barang adalah sisa material atau produk yang sudah tidak dapat dipakai lagi sesuai tujuan awalnya dalam proses produksi atau penggunaannya. Walaupun tidak lagi berguna untuk tujuan semula, sisa material tetap memiliki nilai dan dapat dijual, didaur ulang, atau dimanfaatkan untuk keperluan lain. Contoh dari scrap barang meliputi potongan logam, plastik, kertas, atau produk rusak yang tidak sesuai spesifikasi dan dapat diproses ulang.

Proses produksi sering kali menghasilkan sisa material yang tidak bisa digunakan kembali karena ukuran, kualitas, atau ketidakteraturan. Misalnya, dalam industri elektronik, proses perakitan komponen seperti sirkuit atau panel layar bisa menghasilkan sisa material berupa potongan bahan atau produk yang cacat. Di industri manufaktur logam, sisa pemotongan logam atau bubutan mesin juga termasuk dalam kategori scrap.

Scrap barang tidak selalu berarti limbah yang tidak bernilai. Justru sebaliknya, banyak perusahaan memanfaatkan scrap sebagai bahan baku alternatif untuk produksi baru. Dengan demikian, pengelolaan scrap yang baik dapat membantu perusahaan mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efisiensi operasional.

2. Sumber-Sumber Utama Scrap Barang

Scrap barang dapat berasal dari berbagai sumber dalam proses produksi. Berikut beberapa sumber utama:

a. Sisa Pemotongan

Sisa pemotongan material mentah seperti logam, kayu, atau plastik adalah salah satu asal dari scrap barang. Ketika bahan baku dipotong sesuai dengan spesifikasi produk akhir, terdapat sisa dari pemotongan yang tidak dapat digunakan lebih lanjut untuk produksi. Contohnya, potongan logam yang terlalu kecil atau tidak sesuai ukuran.

b. Sisa Bubutan atau Serutan

Proses permesinan seperti bubut, milling, atau drilling sering menghasilkan sisa material berupa bubutan atau serutan. Material ini biasanya tidak bisa digunakan kembali karena ukurannya yang kecil dan kurang cocok untuk produksi.

c. Barang Rusak

Barang rusak atau tidak sesuai spesifikasi bisa terjadi selama proses produksi atau penyimpanan. Faktor-faktor seperti kesalahan proses, cacat material, atau masalah pada peralatan bisa menyebabkan kerusakan pada produk. Contohnya, produk kaca yang pecah saat dipindahkan antar gudang, atau komponen elektronik yang rusak karena soldering yang salah.

d. Barang Tidak Sesuai Spesifikasi

Selain barang rusak, scrap juga bisa berasal dari barang yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan standar yang telah ditetapkan industri. Hal ini bisa terjadi karena adanya dimensi yang salah, kualitas material yang rendah, maupun cacat dalam desain yang dihasilkan.

e. Sisa Reparasi Barang

Scrap barang juga bisa berasal dari sisa reparasi barang hasil dari proses perbaikan dan pemeliharaan produk. Contohnya, selama reparasi kendaraan mobil yang rusak atau aus akan diganti dengan yang baru. Sisa reparasi ini sering kali tidak bisa digunakan kembali karena sudah mengalami kerusakan atau keausan yang signifikan.

f. Barang Bekas Pakai

Barang bekas yang telah dipakai dan tidak lagi memberikan fungsinya dengan baik juga masuk ke dalam kategori scrap. Contohnya seperti alat-alat produksi, mesin dan peralatan yang sudah tua dan tidak berfungsi dengan efisien. Mesin-mesin tua sering kali mengalami kerusakan dan memerlukan perbaikan terus-menerus.

3. Manfaat Scrap Barang di Industri Manufaktur

Mengelola scrap barang dengan baik memberikan berbagai manfaat yang signifikan bagi perusahaan. Meskipun sering dianggap sebagai limbah, scrap bisa menjadi sumber nilai tambah jika diproses dengan tepat. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:

a. Pendapatan Tambahan

Scrap barang dapat dijual kepada perusahaan lain yang dapat mengolahnya kembali menjadi bahan baku. Biaya kualitas adalah semua biaya yang timbul terkait pengendalian mutu, termasuk kerugian dari scrap dan potensi pendapatan tambahan dari penjualan kembali, yang dapat digunakan untuk mendukung operasional perusahaan atau investasi lebih lanjut.

b. Pengurangan Biaya Bahan Baku

Dengan mendaur ulang scrap barang, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku baru. Hal ini berkontribusi pada pengurangan biaya produksi, karena bahan baku yang berlebihan atau rusak dapat dimanfaatkan kembali untuk produksi berikutnya.

c. Daur Ulang dan Penggunaan Kembali

Proses daur ulang scrap barang memungkinkan perusahaan untuk mengurangi limbah dan memanfaatkan kembali material untuk produk baru. Selain menguntungkan secara finansial, ini juga mendukung inisiatif keberlanjutan dengan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

d. Efisiensi Operasional

Pengelolaan scrap barang yang efektif membantu mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi operasional. Dengan memaksimalkan pemanfaatan bahan baku, perusahaan dapat mengoptimalkan proses produksi dan menghindari pemborosan sumber daya yang tidak perlu.

4. Cara Mengelola Scrap Barang

Untuk meminimalkan kerugian dan meningkatkan efisiensi operasional, pengelolaan sisa material di industri manufaktur harus dilakukan dengan baik. Berikut adalah beberapa cara penanganannya:

a. Segregasi dan Identifikasi

Langkah pertama adalah memisahkan barang scrap dari produk yang memenuhi standar kualitas. Barang-barang tersebut harus dipisahkan agar tidak tercampur dengan produk jadi, sehingga harus diberi tanda atau label yang jelas untuk menghindari kebingungan dan memudahkan penganan. Penerapan prinsip mistake proofing dalam proses pelabelan ini memastikan kesalahan dapat diminimalisasi sejak awal dengan sistem identifikasi yang sederhana namun efektif.

b. Penyimpanan dan Pengumpulan

Simpan barang tersebut di area khusus untuk limbah produksi, dan harus terpisah dari area penyimpanan produk jadi atau material yang masih digunakan untuk produksi. Scrap juga akan dikumpulkan secara teratur dan disimpan dalam kontainer atau wadah terpisah yang sesuai.

c. Proses Ulang dan Daur Ulang

Untuk scrap yang masih bisa diperbaiki, akan diproses ulang dengan melibatkan perbaikan maksimal dan penggunaan kembali komponen yang masih layak. Contohnya, potongan logam yang dilebur dapat digunakan kembali untuk proses produksi. Adanya macam-macam persediaan seperti scrap yang bisa didaur ulang untuk produksi barang lain, seperti serutan kayu yang bisa diproduksi ulang menjadi berbagai artwork lain.

d. Pembuangan dan Pengelolaan Limbah

Barang scrap yang tidak bisa diproses dan didaur ulang, harus dipastikan pembuangan limbah dilakukan sesuai dengan regulasi lingkungan di berbagai daerah yang berlaku. Sisa material yang berbahaya dan berdampak serius pada lingkungan harus dikelola dengan perhatian khusus, seperti melibatkan pemilahan, pengemasan, dan pengangkutan ke fasilitas pengolahan limbah yang sesuai.

e. Pencatatan dan Pelaporan

Cara penanganan lainnya scrap adalah mencatat semua barang yang dihasilkan meliputi jenis, jumlah, dan penyebabnya. Nantinya, data ini dapat Anda gunakan untuk analisis lebih lanjut untuk identifikasi area efisiensi harus dilakukan dan ditingkatkan. Laporan secara berkala juga harus dilakukan untuk operasional manajemen lebih bijak mengambil keputusan dan tindakan strategis untuk mengurangi jumlah scrap yang dihasilkan.

5. Dampak Scrap Barang terhadap Profitabilitas Perusahaan

Dalam proses manufaktur, scrap barang perlu dikelola dengan baik. Sebab, sisa barang yang tidak dikelola dengan baik, dapat berdampak negatif pada keuntungan perusahaan. Setiap barang yang rusak atau tidak memenuhi standar menunjukkan adanya pemborosan bahan baku, yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk produksi yang lebih efisien.

Jika dibiarkan terus menumpuk, biaya produksi akan ikut meningkat, sedangkan perusahaan tidak menghasilkan produk yang dapat dijual. Akibatnya, margin keuntungan perusahaan bisa tergerus. Scrap yang tidak tercatat dengan baik juga bisa menyulitkan proses perencanaan dan pelaporan keuangan. Hal ini membuat perusahaan kesulitan menganalisis penyebab pemborosan dan mengambil keputusan strategis untuk memperbaikinya.

Sebaliknya, jika limbah ini dikelola secara efektif, misalnya dengan pencatatan detail dan proses daur ulang, perusahaan dapat menekan biaya dan bahkan menciptakan pendapatan tambahan dari penjualan sisa produksi. Dalam sebuah laporan, daur ulang logam seperti aluminium dapat menghemat energi hingga 95% dibandingkan dengan produksi dari bahan mentah. Fakta ini menunjukkan bahwa pengolahan scrap logam tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga berperan besar dalam efisiensi energi dan keberlanjutan industri manufaktur.

6. Kesimpulan

Scrap barang adalah sisa dari hasil produk yang sudah melewati proses produksi, dan tidak memiliki fungsi serta tidak bisa digunakan lagi dengan baik. Untuk itu, perusahaan manufaktur penting untuk mengelola setiap scrap yang dihasilkan untuk mengurangi biaya produksi, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendukung keberlanjutan lingkungan.

Untuk memaksimalkan pengelolaan scrap barang dan efisiensi produksi, pertimbangkan untuk menggunakan Software Manufaktur ScaleOcean. Dengan sistem yang terintegrasi dan fitur canggih, ScaleOcean memungkinkan Anda mengelola seluruh proses manufaktur secara efektif, meningkatkan produktivitas, dan meminimalkan pemborosan, serta mendukung keberlanjutan bisnis Anda.