Apa Itu Bekas Bulan Terbelah dan Mengapa Terjadi?
Bulan, yang selama ini dianggap sebagai benda langit yang statis dan tidak berubah, ternyata memiliki cerita yang lebih rumit dari yang kita bayangkan. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian ilmiah telah mengungkap bahwa permukaan Bulan mulai menunjukkan tanda-tanda retakan besar akibat aktivitas seismik atau gempa bulan (moonquakes). Fenomena ini memicu kekhawatiran baru bagi para ilmuwan dan lembaga antariksa, terutama dalam konteks rencana eksplorasi jangka panjang, seperti misi Artemis milik NASA yang bertujuan membangun pangkalan manusia permanen di Bulan.
Selain itu, muncul juga isu tentang “bekas bulan terbelah”, sebuah istilah yang sering digunakan dalam berbagai diskusi agama dan mitos. Beberapa klaim menyebutkan bahwa Bulan pernah terbelah menjadi dua bagian, dengan bukti foto-foto yang viral di media sosial. Namun, klaim tersebut telah dibantah oleh NASA dan ilmuwan sejati. Meskipun demikian, fenomena alami seperti patahan permukaan Bulan tetap menjadi topik penting untuk dipahami, terutama dalam konteks keamanan dan kelayakan lokasi pembangunan infrastruktur lunar.
Artikel ini akan membahas secara lengkap apa yang dimaksud dengan “bekas bulan terbelah”, baik dalam konteks sains maupun mitos. Kami akan menjelaskan penyebab adanya retakan di permukaan Bulan, serta menguraikan bagaimana klaim-klaim tentang “bulan terbelah” dapat dianalisis secara ilmiah. Selain itu, kami juga akan memberikan informasi terkini tentang risiko gempa bulan dan dampaknya terhadap rencana eksplorasi ruang angkasa.
Apa Itu Bekas Bulan Terbelah?
Istilah “bekas bulan terbelah” sering digunakan untuk menggambarkan retakan atau celah yang terlihat di permukaan Bulan. Istilah ini bisa merujuk pada dua hal yang berbeda: pertama, retakan alami yang terbentuk akibat aktivitas seismik; dan kedua, klaim-klaim mitos atau religius yang menyatakan bahwa Bulan pernah terbelah menjadi dua bagian. Dalam konteks sains, “bekas bulan terbelah” biasanya merujuk pada struktur geologis yang terbentuk akibat pergeseran tektonik atau gempa bulan.
Dalam studi terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan, mereka menemukan jejak longsoran batuan dan jatuhnya bongkahan besar di wilayah Taurus-Littrow, lokasi pendaratan misi Apollo 17. Peneliti Nicholas Schmerr menjelaskan bahwa aktivitas seismik di bawah permukaan Bulan bisa memicu pergeseran dan retakan yang terlihat di permukaannya. Meski Bulan tidak memiliki sistem tektonik seperti Bumi, ia masih mengalami kontraksi dan perubahan bentuk, yang dapat menghasilkan retakan dan patahan permukaan.
Di sisi lain, dalam konteks religius, “bekas bulan terbelah” sering dikaitkan dengan mukjizat Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an, ayat Al-Qamar:1-2 menyebutkan bahwa “bulan terbelah”. Dalam tradisi Islam, ayat ini dianggap sebagai bukti mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu kemampuannya membelah bulan menjadi dua bagian. Namun, klaim ini tidak didukung oleh bukti ilmiah dan sering kali disalahpahami oleh masyarakat awam.
Penyebab Adanya Retakan di Permukaan Bulan
Penyebab utama adanya retakan di permukaan Bulan adalah aktivitas seismik atau gempa bulan. Meskipun Bulan tidak memiliki lempeng tektonik seperti Bumi, ia masih mengalami pergerakan internal yang dapat menyebabkan gempa. Gempa bulan terjadi akibat kontraksi internal Bulan, yang disebabkan oleh pendinginan intinya. Proses ini membuat permukaan Bulan mengkerut dan membentuk patahan serta retakan.
Para ilmuwan menemukan bahwa patahan aktif seperti Lee-Lincoln fault masih bisa memicu gempa di masa kini. Patahan ini berada di dekat beberapa lokasi potensial untuk pendaratan dan pembangunan pangkalan permanen. Thomas R. Watters, ilmuwan senior emeritus di Smithsonian Institution, memperingatkan bahwa aktivitas patahan aktif perlu diperhitungkan dengan serius saat menentukan lokasi pangkalan di Bulan.
Studi terbaru juga menunjukkan bahwa peluang terjadinya gempa bulan yang merusak di dekat patahan aktif sekitar 1 banding 20 juta per hari. Namun, dalam jangka panjang, seperti misi Artemis yang berlangsung bertahun-tahun, risiko tersebut bisa meningkat hingga 1 banding 5.500 dalam satu dekade. Ini menunjukkan bahwa meskipun risiko bencana kecil, ketika kita berbicara tentang infrastruktur jangka panjang di Bulan, risiko sekecil apa pun tetap harus diperhitungkan.
Mitos dan Klaim tentang Bulan Terbelah
Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa Bulan pernah terbelah menjadi dua bagian, isu ini sering muncul dalam berbagai forum online dan media sosial. Salah satu contohnya adalah sebuah postingan foto yang viral beberapa waktu lalu, di mana gambar tersebut menunjukkan retakan di permukaan Bulan dan dianggap sebagai bukti bahwa Bulan pernah terbelah.
Menurut AFP Fast Check, klaim tersebut sudah diipastikan salah. Foto tersebut menunjukkan Rima Ariadaeus, sebuah sistem patahan yang terbentuk akibat aktivitas tektonik. NASA juga membantah klaim bahwa Bulan pernah terbelah, dengan menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
Dalam konteks religius, ayat Al-Qur’an Al-Qamar:1-2 menyebutkan bahwa “bulan terbelah”. Dalam tradisi Islam, ayat ini dianggap sebagai mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, beberapa komentator Muslim menganggap bahwa ayat ini bisa ditafsirkan secara metaforis, seperti gerhana bulan parsial yang kemudian dikaburkan oleh bumi dari bagian Bulan.
Dampak dan Risiko Gempa Bulan terhadap Eksplorasi Ruang Angkasa
Gempa bulan, meskipun jarang terjadi, tetap menjadi ancaman bagi infrastruktur yang dibangun di Bulan. Para ilmuwan merekomendasikan agar lokasi habitat dan fasilitas utama dijauhkan dari area retakan atau tebing patahan untuk meminimalkan risiko kerusakan struktural.
Dalam konteks misi Artemis, risiko gempa bulan harus dipertimbangkan dengan serius. Meskipun probabilitas terjadinya gempa besar di Bulan tergolong kecil, dalam jangka panjang, risiko tersebut bisa meningkat. Oleh karena itu, penelitian terus dilakukan untuk memahami lebih dalam tentang aktivitas seismik di Bulan dan cara mengurangi dampaknya terhadap proyek eksplorasi lunar.
Kesimpulan
“Bekas bulan terbelah” bisa merujuk pada dua hal yang berbeda: retakan alami akibat aktivitas seismik dan klaim mitos atau religius tentang Bulan yang pernah terbelah. Dalam konteks sains, retakan di permukaan Bulan terbentuk akibat kontraksi internal dan aktivitas tektonik, yang bisa memicu gempa bulan. Meskipun risiko gempa besar di Bulan kecil, dalam jangka panjang, risiko tersebut tetap perlu diperhitungkan, terutama dalam konteks pembangunan infrastruktur jangka panjang.
Di sisi lain, klaim tentang Bulan terbelah dalam konteks religius tidak didukung oleh bukti ilmiah dan sering kali disalahpahami. Meskipun demikian, isu ini tetap menarik perhatian publik dan menjadi bahan diskusi yang menarik. Dengan semakin berkembangnya teknologi dan penelitian, kita akan semakin memahami lebih dalam tentang Bulan dan risiko yang terkait dengan eksplorasi ruang angkasa.





