Pada masa kini, banyak orang yang menghadapi tantangan hidup, baik itu dalam mencari nafkah, menghadapi pengangguran, atau bahkan mengalami kesulitan ekonomi. Di tengah situasi ini, Islam memberikan panduan untuk tetap berusaha dan bekerja keras. Dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Rakimin Al-Jawiy, dosen Psikologi Islam UNUSIA Jakarta, ditekankan bahwa bekerja adalah bagian dari keimanan seorang Muslim. Salah satu prinsip etos kerja yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah “sa’yan ala iyalihi”, yang memiliki makna penting dalam konteks kehidupan seorang Muslim.
Kata “sa’yan ala iyalihi” sering muncul dalam berbagai khutbah dan referensi agama, terutama dalam konteks etika kerja dan tanggung jawab sosial. Namun, bagi sebagian orang, kata ini masih asing dan tidak diketahui artinya secara jelas. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas makna lengkap dari istilah “sa’yan ala iyalihi” dalam bahasa Indonesia, serta relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, artikel ini juga akan menjelaskan prinsip-prinsip kerja yang diajarkan oleh Islam, termasuk empat prinsip etos kerja yang dirujuk dalam khutbah tersebut.
Dalam konteks keagamaan, bekerja bukan hanya sekadar mencari rezeki, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah. Seorang Muslim yang bekerja dengan benar dan sesuai dengan ajaran agama akan mendapatkan pahala dan kemuliaan di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, memahami arti dan makna “sa’yan ala iyalihi” sangat penting untuk meningkatkan kesadaran tentang tanggung jawab sosial dan spiritual dalam bekerja.
Apa Arti Kata “Sa’yan Ala Iyalihi”?
Kata “sa’yan ala iyalihi” berasal dari bahasa Arab, dan dalam konteks etos kerja, istilah ini merujuk pada prinsip bahwa seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Secara harfiah, “sa’yan” berarti “mencukupi” atau “memenuhi kebutuhan”, sedangkan “alayhi” berarti “kepadanya” atau “untuknya”. Jadi, secara keseluruhan, “sa’yan ala iyalihi” dapat diartikan sebagai “bekerja demi mencukupi kebutuhan diri sendiri atau keluarga”.
Dalam khutbah yang disampaikan oleh Rakimin Al-Jawiy, istilah ini merupakan salah satu dari empat prinsip etos kerja yang diajarkan oleh Rasulullah. Prinsip ini menekankan bahwa bekerja bukan hanya untuk kepuasan diri sendiri, tetapi juga untuk memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga. Dengan demikian, bekerja menjadi bentuk kepedulian terhadap orang-orang yang kita cintai dan harus kita jaga.
Prinsip ini juga menunjukkan bahwa setiap Muslim wajib bertanggung jawab atas kebutuhan keluarganya. Bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga memastikan bahwa keluarga bisa hidup layak dan sejahtera. Dengan begitu, bekerja menjadi bentuk ketaatan terhadap ajaran agama, sekaligus cara untuk membangun kehidupan yang harmonis dan bermakna.
Makna dan Relevansi “Sa’yan Ala Iyalihi” dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip “sa’yan ala iyalihi” memiliki makna yang sangat penting. Setiap orang, terutama para suami dan ayah, diwajibkan untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab finansial, tetapi juga moral dan spiritual. Dengan bekerja, seseorang tidak hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga memberikan perlindungan dan kestabilan bagi orang-orang yang ia cintai.
Dalam konteks agama, prinsip ini juga berkaitan dengan konsep “taqwa” dan “iman”. Bekerja dengan benar dan ikhlas akan meningkatkan kualitas iman seseorang, karena ia sadar bahwa semua usaha yang dilakukan adalah untuk memenuhi perintah Allah. Dengan demikian, bekerja bukan hanya sekadar aktivitas rutin, tetapi juga bentuk ibadah yang senantiasa dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh rasa syukur.
Selain itu, prinsip ini juga mengajarkan pentingnya tanggung jawab sosial. Dalam Islam, setiap individu memiliki kewajiban untuk menjaga kepentingan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Dengan bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga, seseorang juga turut serta dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan sejahtera.
Empat Prinsip Etos Kerja dalam Islam
Dalam khutbah yang disampaikan oleh Rakimin Al-Jawiy, dinyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan empat prinsip etos kerja yang harus dimiliki oleh umat Islam. Keempat prinsip ini meliputi:
-
Bekerja dengan cara yang halal (thalaba ad-dunya halalan)
Setiap Muslim harus bekerja dengan cara yang sah dan tidak melanggar aturan agama. Tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga menjaga kejujuran dan kebenaran dalam segala aktivitas pekerjaan. -
Bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain (ta’affufan an al-mas’alah)
Bekerja juga bertujuan untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Seseorang yang bekerja dengan gigih akan mampu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. -
Bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga (sa’yan ala iyalihi)
Ini adalah prinsip utama yang telah dibahas sebelumnya. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga adalah bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. -
Bekerja untuk meringankan beban hidup tetangga (ta’aththufan ala jarihi)
Selain untuk diri sendiri dan keluarga, bekerja juga bisa menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama. Dengan berusaha dan bekerja, seseorang bisa membantu orang-orang di sekitarnya.
Keempat prinsip ini saling terkait dan membentuk pola hidup yang seimbang dan bermakna. Dengan mematuhi prinsip-prinsip ini, seseorang tidak hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga berkontribusi positif dalam masyarakat.
Keistimewaan Bekerja dalam Islam
Dalam Islam, bekerja memiliki nilai yang sangat tinggi. Bukan hanya sebagai sarana mencari nafkah, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa bekerja dengan usaha sendiri lebih mulia daripada meminta-minta. Dengan bekerja, seseorang tidak hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga menunjukkan keteguhan iman dan sikap mandiri.
Selain itu, dalam beberapa hadits lain, Rasulullah juga menyebutkan bahwa orang yang bekerja keras akan mendapat berbagai kemuliaan. Orang yang bekerja keras untuk keluarganya akan dianggap sebagai orang yang berada di jalan Allah, dan pada hari akhirat, mereka akan datang dengan wajah yang cerah seperti bulan purnama.
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa “sa’yan ala iyalihi” adalah prinsip etos kerja yang menekankan bahwa bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Prinsip ini merupakan bagian dari empat prinsip etos kerja yang diajarkan oleh Rasulullah, yaitu bekerja dengan cara yang halal, menjaga diri dari menjadi beban orang lain, memenuhi kebutuhan keluarga, dan meringankan beban hidup tetangga.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini memiliki makna yang sangat penting, terutama dalam konteks tanggung jawab sosial dan spiritual. Dengan memahami arti dan makna “sa’yan ala iyalihi”, setiap Muslim dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya bekerja dengan benar dan ikhlas. Bekerja bukan hanya sekadar aktivitas rutin, tetapi juga bentuk ibadah yang senantiasa dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh rasa syukur.
Dengan demikian, marilah kita selalu ingat bahwa bekerja adalah bagian dari keimanan, dan dengan bekerja dengan benar, kita akan mendapatkan berkah dan kemuliaan di dunia maupun akhirat.





