INDOAKTUAL – Bisnis sapi lokal saat ini berada dalam tekanan besar. Masuknya daging dan sapi impor ke pasar Indonesia membuat persaingan tidak bisa dihindari. Banyak peternak mulai merasakan dampaknya, dari harga jual yang tertekan hingga sulitnya menembus pasar modern.
Namun, di balik tantangan tersebut, peluang untuk bertahan dan bahkan berkembang tetap terbuka lebar jika strategi yang tepat diterapkan sejak awal.
Produk impor sering datang dengan pasokan yang stabil dan standar kualitas yang seragam. Faktor inilah yang membuat industri besar dan pasar modern lebih tertarik bekerja sama dengan pemasok impor. Akibatnya, banyak peternak lokal hanya mengandalkan pasar tradisional dan tengkulak, yang sering kali memberikan harga jauh di bawah potensi nilai sebenarnya.
Padahal, sapi lokal memiliki keunggulan yang tidak bisa diabaikan. Daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap iklim tropis, tingkat stres yang lebih rendah, serta cita rasa daging yang lebih segar menjadi nilai tambah yang sangat kuat. Sayangnya, keunggulan ini sering tidak dikemas dalam strategi bisnis yang tepat, sehingga kalah bersaing dari sisi tampilan dan sistem distribusi.
Masalah utama bisnis sapi lokal terletak pada pola usaha yang masih tersebar dan belum terintegrasi. Banyak peternak berjalan sendiri-sendiri tanpa standar operasional yang jelas. Tanpa manajemen yang rapi, biaya produksi sulit dikontrol dan kualitas hasil ternak tidak konsisten.
Di sinilah model kemitraan mulai menjadi solusi yang semakin diminati. Pola kemitraan memungkinkan peternak bergabung dalam sistem yang lebih besar, dengan standar kualitas yang seragam dan arah bisnis yang lebih jelas.
Salah satu model yang mulai banyak dilirik adalah kemitraan peternakan sapi bersama Ghaffar Farm. Dalam sistem ini, peternak tidak hanya menerima arahan, tetapi juga mendapatkan pendampingan langsung dalam pemilihan bakalan sapi, formulasi pakan, hingga manajemen kesehatan ternak. Pola ini membantu peternak mengurangi risiko kesalahan teknis yang sering terjadi di lapangan.
Keunggulan bermitra dengan Ghaffar Farm terletak pada akses jaringan pasar yang lebih luas dan sistem kerja yang terstruktur. Mitra dibantu untuk terhubung dengan jalur distribusi yang lebih stabil, sehingga tidak sepenuhnya tergantung pada tengkulak. Selain itu, sistem pencatatan performa ternak membantu peternak mengukur pertumbuhan sapi secara lebih akurat dan terencana.
Ghaffar Farm juga mendorong penerapan konsep peternakan modern yang mengutamakan efisiensi dan keberlanjutan. Mulai dari pengelolaan pakan yang terukur, manajemen kandang yang higienis, hingga perencanaan waktu panen yang lebih strategis. Semua ini dirancang agar sapi lokal mampu bersaing dari sisi kualitas maupun produktivitas.
Di tengah gempuran produk impor, peternak sapi lokal sebenarnya masih memiliki peluang besar untuk bangkit. Kuncinya terletak pada perubahan cara pandang dan penerapan sistem yang lebih modern.
Bagi siapa pun yang ingin membangun usaha sapi lokal yang lebih stabil dan berkelanjutan, model kemitraan bersama Ghaffar Farm bisa menjadi langkah cerdas. Dengan dukungan sistem yang tepat dan jaringan yang kuat, sapi lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berpotensi menjadi pemain utama di pasar dalam negeri.






