Dalam semangat pengabdian masyarakat yang menjadi ciri khas Muhammadiyah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Magelang telah menorehkan prestasi nyata melalui kegiatan Pengabdian sebagai pengajar di TPQ Al Amin, Desa Blondo 1, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Kegiatan ini berlangsung dari 2 Juni hingga 16 September 2025, di mana kami sebagai tim delapan mahasiswa PAI berkarya sebagai pengajar sukarela. Di bawah naungan pembina Pak Aswan dan Bu Arini, serta pengasuh utama Ustadz Abdullah Musa S.H.I yang dibantu Bu Rahma, TPQ Al Amin yang sebelumnya kekurangan tenaga pengajar kini mampu menampung lebih banyak santri.

Sebagai narasumber dan pelaku langsung, saya, Ishaq Abdurrouf, merasa ini bukan sekadar program kuliah, melainkan panggilan jiwa untuk menyemai ilmu agama di tengah masyarakat.

Keputusan kami terlibat lahir dari observasi lapangan yang mendalam. TPQ Al Amin Blondo menghadapi tantangan klasik: banyaknya anak santri yang membutuhkan bimbingan pembelajaran Agama maupaun Al-Quran, namun tenaga pengajar terbatas. Ustadz Musa dan Bu Rahma saja tak cukup menangani banyaknya santri.

Kami secara kelompok beranggotakan delapan orang dengan ketua Iqbal Pangestu, didukung Reva Julia, Nila Syarmila, Fika Rizkiana, Fera Aldan, Maylani, Ilham Rahmanda, dan saya sendiri, melihat peluang emas ini sebagai bentuk responsif terhadap kebutuhan umat.

Sebagai mahasiswa PAI Universitas Muhammadiyah Magelang, kami terlatih dalam pedagogi Islam kontekstual, sehingga pengabdian ini bukan hanya bantuan, tapi juga uji coba ilmu dari bangku kuliah. Setiap sore dari pukul 16.00 hingga 18.00, Senin hingga Jumat, kami hadir konsisten: hari biasa fokus membaca Al-Quran, sementara Jumat khusus materi wudu, shalat, dan tayangan film Islami inspiratif.

Jadwal ini dirancang agar selaras dengan rutinitas anak-anak desa, memastikan keberlanjutan dan keterlibatan maksimal.

Dampak kegiatan ini begitu mendalam, terutama bagi kami para mahasiswa. Berinteraksi langsung dengan anak-anak dan masyarakat Blondo membuka mata kami akan realitas pendidikan Islam bermasyarakat.

Kami tak hanya mengajar sambil mengajarkan tajwid dan hafalan surah pendek, kami belajar kesabaran dari mata polos santri yang haus ilmu. Ilmu dari dosen Universitas Muhammadiyah Magelang seperti fiqh ibadah dan metode CTL (Contextual Teaching and Learning) kami terapkan langsung, misalnya dengan mengintegrasikan cerita Nabi dalam pelajaran shalat agar anak-anak paham konteksnya.

Sebaliknya, masyarakat mengajarkan kami nilai gotong royong autentik; orang tua santri sering ikut serta, memperkaya diskusi keluarga. Pengalaman ini mengonversi pengetahuan teoritis menjadi keterampilan praktis, membuktikan bahwa pengabdian adalah jembatan antara kampus dan masyarakat.

Tujuan kegiatan ini multifaset, mencerminkan komitmen holistik pendidikan Islam.

Pertama, membantu mengatasi kekurangan tenaga pendidik di TPQ Al Amin, sehingga Ustadz Musa dan Bu Rahma bisa fokus pada santri lanjutan.

Kedua, berdakwah melalui pengajaran Al-Quran, menanamkan akhlak mulia sejak dini sesuai ajaran Rasulullah SAW.

Ketiga, mengasah keterampilan mengajar kami, dari desain lesson plan hingga manajemen kelas, yang krusial bagi calon guru PAI. Keempat, mengenalkan Universitas Muhammadiyah Magelang dan Prodi PAI kepada masyarakat, membuka pintu rekrutmen santri masa depan dan kolaborasi berkelanjutan.

Terakhir, ini bentuk pengabdian diri murni, sejalan dengan amanah Muhammadiyah untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Semua tujuan tercapai, ditandai dengan terkondisikanya santri selama kegiatan pembelajaran, meningkatnya kemampuan membaca maupaun hafalan Al Quran dan apresiasi pengurus TPQ.

Luaran kegiatan tak terbatas pada manfaat langsung. Selain peningkatan kualitas TPQ dengan santri aktif belajar Agama dan Al-Quran program ini dikonversi sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN), diakui universitas sebagai kredit pengabdian.

Bagi masyarakat, ini model pendidikan Islam bermasyarakat yang inklusif, di mana kampus tak lagi elit tapi mitra desa. Opini saya, inisiatif seperti ini harus direplikasi nasional; di era digital, pengabdian offline seperti TPQ Al Amin justru antidote radikalisme melalui pondasi agama yang kuat.

Universitas Muhammadiyah Magelang telah membuktikan: mahasiswa PAI bukan hanya sarjana, tapi agen perubahan umat. Mari dukung dan perluas bentuk pengabdian semacam agar pendidikan Islam bermasyarakat semakin gemilang.

Penulis: Ishaq Abdurrouf