Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia 2026 akan digelar pada juni mendatang. Munas ini merupakan agenda rutin pergantian kepemimpinan tertinggi di tubuh HIPMI dan menjadi titik balik dalam merumuskan cara pandang baru organisasi ini selama 3 tahun kedepan.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat mulai dari transformasi digital, disrupsi industri, hingga tantangan ekonomi global. HIPMI dituntut untuk tidak lagi bergerak dengan pola lama. Organisasi ini perlu menggeser paradigma dari sekadar wadah berkumpulnya pengusaha muda menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih progresif dan berdampak nyata.

Selama ini, kontribusi HIPMI sering kali diidentikkan dengan peran individual kader dalam dunia usaha. Namun ke depan, diperlukan pendekatan yang lebih kolektif dan terarah. HIPMI harus mampu menghadirkan program-program strategis yang tidak hanya menguntungkan anggotanya, tetapi juga memberikan dampak luas bagi masyarakat, seperti penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan UMKM, serta penguatan ekonomi daerah.

Munas HIPMI 2026 juga menjadi momentum penting untuk memperkuat peran organisasi dalam menjawab isu-isu nasional. Mulai dari ketahanan ekonomi, hilirisasi industri, hingga pengembangan sektor digital dan kreatif. Semua ini membutuhkan keterlibatan aktif pengusaha muda yang tergabung dalam HIPMI.

Ditemui di Social Barn Coffee Kompleks Tulip 15/04, Wasekjen Muhammad Irsyad turut memberikan pandangannya. Irsyad berharap akan langkah nyata dan keikutsertaan HIPMI dalam mencetak pengusaha produktif baru yang diharapkan menjadi agen utama dalam peningkatan angka kesejahteraan.

“Kita harus lebih fokus lagi dengan tujuan utama yang telah dicetus oleh para Founding Fathers. Kedepan, kita harus melahirkan kader-kader HIPMI yang berpegang teguh pada nilai-nilai dasar Ke-HIPMI-an, yang mempersembahkan arah kiblat pengabdiannya pada kepentingan bangsa dan negara.”

Menurut Irsyad, perubahan cara pandang juga harus tercermin dalam pola kepemimpinan. HIPMI membutuhkan figur-figur pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas bisnis, tetapi juga visi kebangsaan yang kuat. Kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi menjadi kunci agar HIPMI tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

“HIPMI bukan Himpunan Orang Kaya, tapi Himpunan Pengusaha. Yang namanya Peng-Usaha itu yah yang diinginkan adalah dampak yang lahir dari hasil usahanya. Maka itu lah percuma kalau datang hanya modal bergaya doang. Keringat, hasil tangan dan maha karya seluruh kader lah yang sangat dinantikan terutama dalam menghadapi situasi ekonomi di tengah gejolak dan krisis global seperti saat ini.”

Tidak kalah penting, semangat kolaborasi harus menjadi fondasi utama. HIPMI tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dengan pemerintah, akademisi, dan berbagai stakeholder lainnya perlu diperkuat agar setiap langkah yang diambil memiliki daya dorong yang lebih besar.

“HIPMI ndak akan bisa ngapa-ngapain tanpa stakeholder. Oleh karena itu, komunikasi dan kolaborasi menjadi kunci yang sangat ditekankan. Bahkan gaya dan kemampuan komunikasi itu menjadi nilai plus tersendiri di HIPMI. Oleh karena itu lah, harapan kami Munas HIPMI ini bisa digelar dengan menjunjung tinggi integritas.”

Pada akhirnya, Munas HIPMI 2026 harus mampu melahirkan kesadaran baru bahwa peran pengusaha muda bukan hanya sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai agen perubahan. Dengan cara pandang yang lebih luas dan strategis, HIPMI berpotensi menjadi kekuatan besar dalam mendorong kemajuan bangsa dan memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Kalau ini bisa diwujudkan, HIPMI bukan cuma jadi organisasi tapi jadi kekuatan nyata yang betul-betul terasa dampaknya untuk Indonesia.