Penulis: MUH. RIEZAL DKBP, S.Pd

Promosi doktor sering dibaca sebagai puncak capaian akademik. Namun bagi Imam Permana, S.Pd., M.Pd., momen itu juga menjadi simpul dari banyak perjalanan: ruang kelas, organisasi, pengabdian, keluarga, dan ikhtiar panjang merawat ilmu.

Pada Jumat, 12 Juni 2026, di Ruang Promosi Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, dosen Pendidikan Fisika UIN Alauddin itu berhasil mempertahankan disertasinya dan meraih gelar Doktor dalam bidang Pendidikan dan Keguruan dengan IPK 4.00.

Perjalanan akademik Imam tidak tumbuh di ruang yang sunyi dari aktivitas sosial. Sejak muda, ia akrab dengan organisasi. Ia pernah menjadi Sekretaris OSIS SMPN 5 Enrekang, Ketua Ekstrakurikuler Pramuka SMA Negeri 1 Enrekang, Ketua Pelajar Islam Indonesia Cabang Enrekang, hingga Ketua UKM Pramuka UIN Alauddin.

Jejak itu berlanjut ketika ia dipercaya menjadi anggota Majelis Pembimbing Gugus Depan UKM Pramuka UIN Alauddin. Dari dunia Pramuka, ia belajar bahwa ilmu tidak cukup hanya disimpan sebagai pengetahuan, tetapi harus tampak dalam disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kesiapan mengabdi.

Di sisi lain, perannya sebagai Asesor BAN-PDM Provinsi Sulawesi Selatan memberi warna lain dalam perjalanan intelektualnya. Sebagai asesor, Imam terbiasa membaca mutu pendidikan bukan hanya dari dokumen, tetapi dari proses, budaya sekolah, tata kelola, pembelajaran, dan jejak nyata layanan pendidikan.

Pengalaman itu membuat cara pandangnya terhadap pendidikan menjadi lebih utuh: bahwa mutu tidak lahir dari slogan, tetapi dari sistem yang dijalankan dengan konsisten.

Keseimbangan antara organisasi dan akademik itu mendapat perhatian khusus dalam forum promosi. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Andi Achruh, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas kemampuan Imam menjaga kerja organisasi dan pencapaian akademik agar tetap berjalan selaras.

Apresiasi itu terasa beralasan, sebab di luar kampus Imam juga aktif sebagai instruktur Bimbingan Teknis Tindak Lanjut Hasil Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia, staf ahli pengabdian kepada masyarakat, Editor in Chief jurnal pengabdian kepada masyarakat, serta tenaga tutorial JILC.

Namun, ruang promosi hari itu tidak hanya berisi teori, metodologi, dan capaian akademik. Ada momen manusiawi yang membuat forum hening.

Saat Imam menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua, mertua, dan keluarga besar yang hadir, suaranya sempat bergetar ketika menyebut doa-doa yang tak pernah putus dan harapan yang tak pernah padam.

Suasana haru itu kemudian mencair saat ia beralih menyampaikan terima kasih kepada istrinya, Fitriani Kadir, S.Pd., M.Pd., yang disebutnya sebagai “rumah paling sabar”. Audiens spontan menyambut dengan canda hangat, membuat ruang promosi kembali hidup dalam tawa.

Bagi Imam, jalan doktoral bukan sekadar perburuan gelar. Ia memaknai menuntut ilmu sebagai ikhtiar mendekat kepada Allah SWT dengan meneladani nilai Al-‘Alim dalam batas kemampuan manusia.

Kesadaran bahwa ilmu Allah begitu luas, sebagaimana tergambar dalam QS Al-Kahfi ayat 109, menjadi pengingat bahwa semakin tinggi seseorang belajar, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk rendah hati, terus bertumbuh, dan memberi manfaat.

Promosi doktor Imam Permana akhirnya menjadi lebih dari seremoni akademik. Ia memperlihatkan bahwa seorang pendidik dibentuk oleh banyak ruang: keluarga yang mendoakan, organisasi yang menempa, kelas yang mengajarkan kesabaran, asesmen mutu yang melatih ketelitian, dan kampus yang menguji gagasan.

Dari jiwa Pramuka hingga nalar asesor, dari ruang pengabdian hingga panggung doktoral, perjalanan ini menyampaikan satu pesan penting: ilmu yang baik bukan hanya meninggikan derajat pribadi, tetapi juga memperluas medan pengabdian.