Indoaktual, Politeknik Negeri Lampung (Polinela) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan inovasi pertanian berkelanjutan melalui kegiatan Penelitian Dosen Pemula (PDP) yang didanai oleh DIPA Polinela Tahun Anggaran 2026 melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Polinela.

Salah satu penelitian yang dilakukan mengungkap “Potensi Trichoderma dalam Meningkatkan Pertumbuhan, Kandungan Klorofil, Asam Salisilat dan Fenol sebagai Indikator Ketahanan Jagung Manis terhadap Penyakit Bulai” dilaksanakan oleh tim peneliti Politeknik Negeri Lampung dengan melibatkan dosen dan mahasiswa.

Penelitian ini diketuai oleh Herfandi Lamdo, S.P., M.P. dari Program Studi Hortikultura, Jurusan Budidaya Tanaman Pangan, Politeknik Negeri Lampung. Tim penelitian beranggotakan Nabillah Anissa, S.P., M.P. dan Eka Wahyu Ningsih, S.P., M.Si., keduanya dari Program Studi Produksi Tanaman Perkebunan, Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan, Politeknik Negeri Lampung.

Penelitian ini turut melibatkan mahasiswa Rahma Nita Arianti dan Melisha Furiyani, mahasiswi D3 Hortikultura, Jurusan Budidaya Tanaman Pangan, Politeknik Negeri Lampung.

Keterlibatan mahasiswa dalam penelitian menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk memahami proses penelitian, mulai dari pelaksanaan kegiatan hingga pengamatan dan pengumpulan data.

Menjawab Tantangan Penyakit Bulai

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemberian Trichoderma memberikan respons berbeda terhadap pertumbuhan tanaman jagung manis. Perlakuan dengan konsentrasi Trichoderma 10⁵ (P5) menunjukkan hasil paling menonjol dengan tinggi tanaman 54,63 cm dan jumlah daun 5,70 helai.

Sementara itu, diameter batang mencapai 9,30 mm. Sebagai pembanding, tanaman tanpa perlakuan Trichoderma hanya mencapai tinggi 41,06 cm dengan jumlah daun 4,49 helai.

Respons tanaman terhadap penyakit bulai juga menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Pada perlakuan P5, masa inkubasi penyakit mencapai 13,58 hari setelah inokulasi (hsi), sedangkan pada tanaman tanpa Trichoderma masa inkubasi hanya 6,38 hsi. Intensitas penyakit pada perlakuan P5 tercatat sebesar 25,76%, jauh lebih rendah dibandingkan perlakuan kontrol yang mencapai 55,01%.

Pengamatan terhadap indeks ketahanan tanaman juga memperlihatkan hasil yang menarik. Tanaman tanpa Trichoderma berada pada kategori sangat rentan, sedangkan perlakuan Trichoderma 10⁵ berada pada kategori tahan.

Pengamatan terhadap indikator fisiologis dan biokimia tanaman. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan Trichoderma 10⁵ menghasilkan kandungan asam salisilat sebesar 2,82, fenol sebesar 3,06, dan klorofil sebesar 31,50.

Nilai tersebut merupakan hasil tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Pada tanaman tanpa Trichoderma, kandungan asam salisilat tercatat 1,38, fenol 1,51, dan klorofil 18,54.

Hasil ini memberikan gambaran bahwa pemberian Trichoderma pada konsentrasi tertentu berkaitan dengan perubahan indikator fisiologis dan biokimia tanaman sebagai indikator ketahanan terhadap penyakit bulai.

Mendorong Inovasi Pertanian Ramah Lingkungan

Bagi Politeknik Negeri Lampung, penelitian ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya riset di lingkungan perguruan tinggi dengan mengintegrasikan penelitian dosen dan pembelajaran mahasiswa.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian diharapkan dapat meningkatkan kompetensi, pengalaman praktis, serta kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.

Melalui program Penelitian Dosen Pemula, tim peneliti Politeknik Negeri Lampung terus mendorong lahirnya inovasi yang memiliki nilai ilmiah sekaligus berpotensi memberikan kontribusi bagi pengembangan teknologi budidaya tanaman.

Penelitian tentang Trichoderma pada jagung manis ini diharapkan dapat menjadi salah satu untuk pengembangan penelitian lanjutan, khususnya dalam pemanfaatan agen hayati dan pengelolaan penyakit tanaman secara berkelanjutan yang ramah lingkungan.