Indoaktual, Lampung — Upaya meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan tanaman kakao terus dilakukan melalui pemanfaatan agen hayati yang ramah lingkungan. Salah satunya melalui penelitian berjudul “Potensi Jenis Agen Hayati sebagai Biokontrol untuk Menekan Intensitas Penyakit Phytophthora palmivora dan Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Kakao” yang memperoleh pendanaan DIPA Politeknik Negeri Lampung (Polinela) Tahun 2026.
Penelitian ini melibatkan Nabillah Anissa, S.P., M.P. sebagai ketua peneliti dengan anggota Herfandi Lamdo, S.P., M.P., Tika Leoni Putri, S.P., M.Si., dan Retno Wulansari, M.Agr. Penelitian juga melibatkan mahasiswa D3 Produksi Tanaman Perkebunan yaitu Habib Alim Laksono dan Indra Saputra sebagai bagian dari tim mahasiswa.
Penelitian menguji beberapa jenis agen hayati, yaitu Trichoderma, mikoriza, EM4, Pseudomonas fluorescens, dan Azotobacter, serta membandingkannya dengan perlakuan tanpa agen hayati. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman, masa inkubasi penyakit, intensitas penyakit, dan ketahanan tanaman.
Trichoderma menunjukkan hasil paling terbaik
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan Trichoderma (P1) memberikan respons paling baik pada sejumlah parameter pertumbuhan bibit kakao. Pada umur 28 hari setelah tanam (HST), tanaman yang diberi Trichoderma mencapai tinggi 35,44 cm, lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa agen hayati yang hanya mencapai 28,19 cm. Respons positif juga terlihat pada jumlah daun. Pada 28 HST, perlakuan Trichoderma menghasilkan rata-rata 16,44 daun, sedangkan kontrol hanya 13,56 daun. EM4 juga menunjukkan hasil yang relatif tinggi dengan 16,13 daun. Pada parameter diameter batang, Trichoderma kembali menunjukkan nilai tertinggi pada 28 HST, yaitu 7,50, dibandingkan kontrol sebesar 6,87. Berdasarkan data penelitian, perbedaan diameter batang belum menunjukkan pengaruh nyata.
Mampu memperlambat perkembangan penyakit
Keunggulan Trichoderma semakin terlihat pada pengamatan penyakit. Perlakuan tersebut mampu memperpanjang masa inkubasi penyakit hingga 13,44 HST, sementara tanaman tanpa agen hayati hanya memiliki masa inkubasi 5,13 HST. Selain itu, intensitas penyakit pada perlakuan Trichoderma hanya mencapai 12,70%, jauh lebih rendah dibandingkan kontrol yang mencapai 56,68%. EM4 juga menunjukkan intensitas penyakit yang rendah, yaitu 17,39%.
Tanaman menunjukkan kategori tahan
Berdasarkan indeks ketahanan tanaman, perlakuan Trichoderma memperoleh indeks ketahanan 5,01 dan masuk dalam kategori tahan. Kategori yang sama juga diperoleh pada perlakuan EM4 dan Azotobacter, sedangkan mikoriza dan Pseudomonas fluorescens termasuk kategori cukup tahan. Sementara itu, tanaman tanpa agen hayati berada pada kategori sangat rentan.
Alternatif pengendalian penyakit yang ramah lingkungan
Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi pemanfaatan agen hayati sebagai bagian dari strategi pengendalian penyakit pada bibit kakao. Trichoderma menjadi salah satu perlakuan yang paling menjanjikan karena menunjukkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik sekaligus berkaitan dengan penurunan intensitas penyakit.





