Indoaktual, Lombok – Kalau ada satu penyesalan yang paling aku ingat dari perjalanan pertamaku ke Lombok, bukan soal tempat yang terlewat atau penginapan yang kurang nyaman. Penyesalan itu jauh lebih sederhana dan sekaligus lebih menyebalkan karena sebetulnya bisa dicegah sejak awal.
Aku datang ke Lombok pertama kali tanpa perencanaan transportasi yang matang. Pikirku waktu itu simpel: nanti di sana tinggal cari ojek atau taksi, toh di mana-mana juga ada. Lombok kan bukan pedalaman.
Ternyata aku salah. Dan harga dari kesalahan itu aku bayar sepanjang perjalanan.
Hari Pertama yang Langsung Mengajarkan Banyak Hal
Begitu keluar dari Bandara Internasional Lombok, hal pertama yang aku rasakan adalah betapa sepinya area di luar terminal dibanding yang aku bayangkan. Tidak ada deretan taksi seperti di bandara-bandara besar. Aplikasi ojek online aku buka, sinyal naik turun, dan driver yang tersedia jaraknya cukup jauh.
Aku akhirnya dapat taksi bandara setelah antri cukup lama. Harganya? Lebih mahal dari yang aku kira untuk jarak yang sebetulnya tidak terlalu jauh. Tapi aku tidak punya pilihan lain, jadi aku bayar.
Di dalam taksi, aku mulai ngobrol dengan sopirnya. Dia orang Lombok asli, ramah, dan dengan santai bercerita soal betapa banyak wisatawan yang mengalami hal serupa. “Lombok itu beda, Pak. Kalau mau kemana-mana enak, mending sewa mobil dari awal,” katanya.
Aku mengangguk sopan. Dalam hati aku pikir, ah nanti juga bisa diatur.
Nanti ternyata tidak semudah yang aku bayangkan.
Terjebak Jadwal Orang Lain
Hari kedua, aku sudah di kawasan Senggigi. Rencananya mau ke Pantai Tanjung Aan di selatan — salah satu yang paling sering disebut orang sebagai wajib dikunjungi di Lombok. Jaraknya sekitar 65 kilometer, butuh waktu hampir dua jam.
Aku coba cari travel sharing. Ada, tapi jadwal keberangkatannya menyesuaikan penumpang lain yang baru bisa berangkat siang. Aku ikut karena tidak ada pilihan lain.
Kami berangkat pukul sebelas siang. Sampai di Tanjung Aan sekitar pukul satu. Matahari sudah tinggi, panas menyengat, dan pantai yang katanya cantik itu terasa kurang bisa aku nikmati karena kepalaku sudah pening dihajar terik. Setelah dua jam di sana, sopir travel sudah gelisah karena harus mengantar penumpang lain. Aku buru-buru kembali ke mobil.
Dalam perjalanan pulang, kami melewati sebuah bukit dengan pemandangan yang luar biasa hamparan savana kuning dengan laut biru di kejauhan. Beberapa penumpang minta berhenti sebentar untuk foto. Sopirnya bilang tidak bisa, sudah ada jadwal lain yang menunggu.
Aku hanya bisa melihat pemandangan itu dari balik kaca mobil yang melaju. Bukit itu ternyata adalah Bukit Merese salah satu spot terbaik di Lombok yang baru aku tahu namanya setelah pulang dan browsing foto-foto perjalanan orang lain.
Aku tidak sempat ke sana sama sekali.
Hitung-Hitungan yang Bikin Aku Menyesal
Malam terakhir di Lombok, iseng aku hitung total pengeluaran transportasi selama empat hari. Taksi bandara, travel sharing dua kali, ojek beberapa kali untuk jarak pendek, dan sekali naik kendaraan sewaan dadakan dengan harga yang sudah di-markup karena aku butuh mendesak.
Totalnya mengejutkan. Lebih dari yang aku perkirakan, dan yang lebih menyakitkan kalau jumlah itu aku pakai untuk sewa mobil harian selama empat hari, aku tidak hanya bisa menghemat, tapi juga bisa pergi ke semua tempat yang aku lewatkan.
Matematika yang menyebalkan untuk dipahami di hari terakhir liburan.
Perjalanan Kedua: Semua Berubah
Setahun kemudian aku kembali ke Lombok. Kali ini dengan satu perubahan mendasar dalam perencanaan: transportasi dibereskan duluan, sebelum apapun yang lain.
Aku riset beberapa layanan sewa mobil Lombok yang beroperasi di sana. Dari beberapa nama yang muncul berulang di forum dan grup traveler, aku akhirnya menghubungi Lepas Kunci Lombok. Namanya sudah beberapa kali aku lihat disebut dengan nada positif, dan waktu aku hubungi, respons mereka cepat dan informasinya jelas.
Aku ceritakan rencana perjalanan empat hari, rute dari Senggigi ke selatan lalu ke timur menuju Sembalun dan mereka langsung memberi gambaran yang membantu: estimasi waktu tempuh, kondisi jalan di beberapa titik yang aku tanyakan, dan rekomendasi kendaraan yang sesuai.
Tidak ada kesan buru-buru atau asal jawab. Dan itu yang paling aku butuhkan.
Hari Pertama yang Benar-Benar Berbeda
Pagi pertama perjalanan kedua, aku keluar dari penginapan pukul tujuh pagi. Mobil sudah menunggu. Tidak ada antrian, tidak ada negosiasi harga di tempat, tidak ada ketergantungan pada jadwal orang lain.
Tujuan pertama tetap Tanjung Aan kali ini aku mau melunasinya dengan benar. Aku berangkat pagi, tiba sekitar pukul sembilan, dan pantai itu masih sepi. Hanya beberapa orang yang baru datang. Pasir putihnya bersih, airnya tenang, dan aku bisa duduk di sana selama yang aku mau tanpa ada yang menunggu.
Di perjalanan ke sana, aku melewati jalan kecil yang tembusnya ke area persawahan. Karena aku yang pegang setir, aku bisa belok, berhenti, dan berjalan sebentar di pematang sawah itu. Bau tanah basah dan suara angin di antara padi momen kecil yang tidak ada dalam itinerary manapun tapi justru yang paling membekas.
Dan kali ini, dalam perjalanan pulang dari Tanjung Aan, aku tidak melewatkan Bukit Merese.
Bukit Merese: Utang yang Akhirnya Terbayar
Aku parkir mobil di bawah dan naik ke puncak bukit dengan santai. Tidak ada yang menunggu, tidak ada sopir yang gelisah lihat jam.
Dari atas Bukit Merese, aku akhirnya melihat sendiri kenapa tempat ini selalu masuk rekomendasi teratas wisata Lombok. Savana yang menghampar, dua pantai yang terlihat sekaligus dari titik yang berbeda, dan angin yang cukup kencang tapi menyenangkan setelah perjalanan yang cukup panas.
Aku duduk di sana lebih dari satu jam. Tidak ada yang menyuruhku buru-buru.
Itu salah satu jam terbaik dalam semua perjalanan yang pernah aku lakukan.
Sembalun dan Rinjani: Yang Tidak Mungkin Tanpa Mobil Sendiri
Hari ketiga, aku bergerak ke timur menuju Sembalun. Ini bagian perjalanan yang paling aku antisipasi kawasan di kaki Rinjani yang aksesnya jauh dari pusat keramaian dan hampir tidak mungkin dijangkau dengan transportasi umum secara efisien.
Perjalanan ke Sembalun melewati jalur yang berliku dan menanjak, menembus kawasan hutan yang udaranya langsung terasa lebih sejuk begitu masuk. Di beberapa titik, jalan menyempit dan kamu benar-benar perlu fokus mengemudi. Tapi setiap tikungan membuka pemandangan baru yang membuat lelah itu terasa worthit.
Setibanya di Sembalun, Rinjani berdiri di depan mata dalam ukuran yang bikin kamu sadar betapa kecilnya manusia. Puncaknya terselimuti awan tipis, dan di sekitarnya hamparan ladang bawang merah Sembalun yang terkenal menghijau di bawah sinar sore.
Aku tidak mendaki kali ini. Rinjani butuh persiapan yang jauh lebih serius dari yang aku punya. Tapi berdiri di Sembalun dan merasakan udara dinginnya, melihat langsung gunung yang selama ini hanya aku lihat di foto itu sudah cukup untuk membuat satu keputusan bulat: tahun depan aku akan kembali, dengan persiapan yang lebih matang.
Yang Berubah Setelah Punya Kendali Penuh
Membandingkan dua perjalanan ke Lombok itu bukan soal destinasinya toh tempat yang dikunjungi sebagian besar sama. Yang berbeda adalah kualitas pengalamannya.
Perjalanan pertama terasa seperti menonton pertunjukan dari kursi paling belakang. Aku ada di Lombok, tapi tidak benar-benar di dalamnya. Selalu ada batas antara aku dan momen yang sebenarnya entah itu kaca mobil yang tidak bisa aku minta berhenti, atau jadwal yang bukan milikku untuk diubah.
Perjalanan kedua terasa sebaliknya. Setiap keputusan ada di tanganku. Mau berhenti di mana, berapa lama, mau mampir ke mana yang terlihat menarik di pinggir jalan semua bisa dilakukan tanpa harus minta izin atau melihat jam dengan cemas.
Dan itu semua dimulai dari satu keputusan sederhana: memesan rental mobil Lombok yang tepat sebelum berangkat.
Untuk Kamu yang Sedang Merencanakan Lombok
Kalau kamu sekarang sedang menyusun rencana perjalanan ke Lombok, aku tidak akan panjang lebar soal ini. Cukup satu saran yang aku bisa beri dari dua kali pengalaman berbeda:
Beres-kan transportasinya duluan.
Lombok itu luas, destinasinya tersebar, dan waktu liburanmu terlalu berharga untuk dihabiskan menunggu atau menyesal. Cek layanan sewa mobil Lombok sebelum kamu memesan tiket pesawat pun supaya ketika kaki kamu pertama kali menginjak pulau itu, kamu sudah tahu kamu bisa pergi ke mana saja, kapan saja, dengan caramu sendiri.
Percayakan itu padaku yang sudah pernah merasakannya dua kali sekali dengan cara yang salah, dan sekali dengan cara yang benar.





